Fiqh Wudhu

Oleh: BSO Ketakmiran

Keutamaan wudhu

Wudhu mempunyai keutamaan yang agung berdasarkan sabda-sabda Rasulullah SAW berikut:

Sabda Rasulullah SAW: “ maukah kalian aku tunjukan sesuatu dimana dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan, dan mengangkat derajat dengannya?” para sahabat menjawab, “ ya mau, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda, “ yaitu menyempurnakan wudhu pada saat yang sulit(misalnya musim dingin), berjalan ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, itulah ribath (sabar terhadap ketaatan).” (HR.Muslim)

Sabda Rasulullah SAW, “jika hamba muslim atau mukmin berwudhu, kemudian membasuh wajahnya, maka semua kesalahannya keluar dari wajahnya, ia bisa melihat kesalahannya dengan kedua matanya bersama dengan air atau akhir tetesan air. Jika ia membasuh kedua tangannya, maka segala kesalahannya keluar yang digerakkan kedua tangannya bersama dengan air atau akhir tetes air. Jika ia membasuh kedua kakinya, maka segala kesalahannya keluar yang digerakkan oleh kedua kakinya bersama air atau akhir tetes air. Hingga ia bersih dari dosa-dosa. (HR. Malik dll).

Hal-hal yang diwajibkan dalam wudhu :

  1. Niat, yaitu keinginan hati untuk mengerjakan wudhu karena ingin melaksanakan perintah Allah Ta’ala berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “… sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu harus dengan niat” (Muttafq ‘Alaih)
  2. Membasuh wajah dari kening atas hingga dagu karena Allah Ta’ala berfirman, “maka basuhlah muka kalian.” (QS. Al-maidah:6). Bagi yang berjenggot tipis, jenggotnya pun harus basah.
  3. Membasuh kedua tangan hingga siku, karena Allah Ta’ala berfirman, “(dan basuhlah) tangan kalian sampai siku. (QS. Al-Maidah: 6)
  4. Menyapu dari kepala dari kening hingga tengkuk, karena Allah Ta’la berfirman, “sapulah kepala kalian. (QS. Al-Maidah:6). Dari Abdullah Ibnu Zain Ibnu Ashim Radliyallaahu ‘anhu tentang cara berwudlu, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengusap kepalanya dengan kedua tangannya dari muka ke belakang dan dari belakang ke muka. Muttafaq Alaihi. Dari Ali Radliyallaahu ‘anhu tentang cara berwudlu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, dia berkata: Beliau mengusap kepalanya satu kali. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Tirmidzi dan Nasa’i juga meriwayatkannya dengan sanad yang shahih, bahkan Tirmidzi menyatakan bahwa ini adalah hadits yang paling shahih pada bab tersebut.
  5. Membasuh kedua kaki hingga dua mata kaki, karena Allah Ta’ala berfirman, “ dan (basuh) kaki kalian sampai kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah:6)
  6. Berurutan dalam berwudhu. Pertama-tama ia niat, membasuh mukanya, kemudian kedua tangannya, kemudian kepala, kemudian kaki. Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. Muttafaq Alaihi.
  7. Muawalah artinya menjalankan aktifitas wudhu pada satu waktu tanpa jeda.

Hanya saja jeda sedikit itu ditolerir, begitu juga karena udzur, misal persediaan air itu habis, atau aliran air wudhu terhenti atau pengalirannya itu membutuhkan waktu lama. Pada kondisi itu jeda diperbolehkan.

Catatan:

Sebagian ulama memasukkan ad-dalku (menggosok organ tubuh wudhu) termasuk kewajiban wudhu, dan sebagian ulama lainnya memasukkannya sebagai sunnah-sunnah wudhu. Pada hakikatnya, ad-dalku ialah kesempurnaan membasuh organ tubuh wudhu, jadi tidak dibuatkan nama khusus atau hukum tersendiri.

  1. Membaca basmallah ketika memulai wudhu, karena Rasulullah Saw bersabda, “ tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebutkan nama Allah padanya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dengan sanad Dhaif, namun karena jalurnya banyak, maka sebagian ulama mengamalkannya)
  2. Membasuh/mencuci kedua telapak tangan hingga tiga kali sebelum dimasukkan ke dalam tempat wudhu jika seseorang habis bangun tidur, karena Rasulullah Saw bersabda, “ jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka ia jangan mencelupkan tangannya ke dalam air, hingga ia membasuh/mencuci tiga kali, karena ia tidak tahu tangannya bermalam.” (Muttafq ‘alaih)
  3. Membersihkan gigi dengan siwak(gosok gigi), karena Rasulullah Saw bersabda, “ jika aku tidak memberatkan umatku, aku pasti menggunakan siwak pada setiap kali wudhu.” (HR. Malik)
  4. Berkumur, berdasar sabda Rasulullah Saw, “ jika engkau berwudhu, maka berkumurlah.” (HR. Abu Daud dengan sanad hasan)
  5. Istinsyaq(menghirup air dengan hidung) dan istintsar(mengeluarkan air dengan hidung setelah menghirupnya), karena Rasulullash Saw bersabda, “ dan bersungguh-sungguhlah dalam melakukan istinsyaq kecuali engkau dalam keadaan berpuasa. (HR Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmidzi).
  6. Mengalirkan air ke jenggot, dikarenakan ucapan ammar bin yassar karena kendati merasa asing dengannya, namun ia berkata, “keterasinganku tidak mengghalangiku mengalirkan air ke jenggot, karena aku melihat Rasullullah Saw mengalirkan air ke jenggotnya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
  7. Membasuh organ tubuh wudhu sebanyak tiga kali. Karena kewajiban membasuh itu hanya sekali, maka membasuh wudhu tiga kali adalah sunnah, kecuali membasuh kepala cukup sekali saja, karena Rasulullah Saw tidak pernah melakukannya kecuali sekali berdasar Dari Ali Radliyallaahu ‘anhu tentang cara berwudlu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, dia berkata: Beliau mengusap kepalanya satu kali. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Tirmidzi dan Nasa’i juga meriwayatkannya dengan sanad yang shahih, bahkan Tirmidzi menyatakan bahwa ini adalah hadits yang paling shahih pada bab tersebut.
  8. Membasuh telinga bagian luar dan dalam, karena rasulullah Saw terbiasa melakukannya.
  9. Mengalirkan air ke jari-jari kedua tangan dan jari-jari kedua kaki, karena Rasulullah Saw bersabda, “ jika engkau berwudhu, maka alirkan air ke jari-jari kedua tanganmu dan jari-jari kedua kakimu.”
  10. Tayamun yaitu memulai dengan bagian kanan ketika membasuh kedua tangan dan kedua kaki, karena dalil-dali berikut: Sabda Rasulullah Saw, “jika kalian berwudhu, maka mulailah dengan bagian kanan kalian.” (HR. Ahmwad dan At-Tirmidzi). Ucapan Aisyah r.a, “ Nabi Saw senang memulai dengan yang kanan ketika mengenakan sandal, menyisir, bersuci dan dalam segala hal.” (Muttafaq ‘Alaih).
  11. Memanjangkan warna putih di wajah, dan kaki dengan membasuh leher ketika membasuh wajah, membasuh sedikit dari lengan ketika membasuh kedua tangan, dan membasuh sedikit dari betis ketika membasuh kaki, karena Rasulullah Saw bersabda, “ sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih wajahnya dan kakinya karena bekas-bekas wudhu. Maka barangsiapa di antara kalian sanggup memanjangkan warna putihnya, silahkan kerjakan. (Muttafaq’Alaih).
  12. Membasuh kepala bagian depan, karena berdasarkan hadits Rasulullah Saw membasuh kepala dengan kedua tangannya, kemudian memajukan dan mengembalikannya. Beliau memulai dengan kepala bagian depan kemudian membawa kedua tangannya ke akhir tenguknya, kemudian mengembalikkanya ke tempat semula.” (Muttafaq ‘alaih)
  13. Berdoa setelah wudhu dengan doa berikut: Asyhadu anal ilaha illa Allah laa syarikalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh Allahumaj ‘alnii minat tawwabiina waj ‘alnii minal mutathohiriina. “aku bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah saja tiada sekutu bagi-NYA dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Ya Allah jadikan aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikan aku termasuk orang-orang yang suci.” Karena Rasulullah Saw bersabda, “barangsiapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya kemudian berdoa seperti yang di atas, maka kedelapan pintu surge dibukakan untuknya dan ia masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Muslim)

Hal- hal yang dimakruhkan dalam wudhu

  1. Berwudhu di tempat najis, karena dikhawatirkan najis tersebut mengenai dirinya.
  2. Membasuh lebih dari tiga kali, karena Rasulullah Saw berwudhu tiga kali-tiga kali dan beliau bersabda, “barangsiapa lebih dari tiga kali, ia berbuat jelek dan dzalim.” (HR. An-Nasai, Ahmad, dan At-Tirmidzi)
  3. Berlebih-lebihan dalam penggunaan air, karena Rasulullah Saw berwudhu dengan air sebanyak takaran di telapak tangan. (diriwayatkan At-Tirmidzi).
  4. Meninggalkan salah satu sunnah wudhu atau lebih, karena dengan meninggalkannya orang muslim kehilangan pahala. Oleh karena itu, tidak selayaknya sunnah wudhu ditinggalkan.
  5. Berwudhu dengan sisa air wudhu wanita, karena Rasululllah Saw melarang air sisa bersuci wanita. (diriwayatkan At-Tirmidzi, dan ia meng-hasan-kannya

Cara Wudhu

Orang muslim meletakkan tempat air disebelah kanannya jika memungkinkan, sambil berkata “bismillah”. Ia tuangkan air ke kedua telapak tangannya sambil berniat wudhu, membasuhnya tiga kali, berkumur tiga kali, menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya kembali sebanyak tiga kali, membasuh wajahnya dari tempat tumbuhnya rambut hingga jenggotnya, dari tonjolan di depan telinga ke tonjolan di depan telinga sebanyak tiga kali, membasuh tangannya hingga lengan sebanyak tiga kali dengan memasukkan air ke jari-jarinya, membasuh kepala satu kali dimulai dengan kepala bagian depan kemudian membawa kedua tangannya ke tengkuknya kemudian mengembalikan kedua tangannya ke tempat semula (kepala bagian depan), mengusap kedua telinganya, luar dan dalam dengan air yang terisisa di kedua tangannya, membasuh kaki hingga betis sebanyak tiga kali dengan memasukkan air ke jari-jari kaki, dan membaca doa berikut: “Asyhadu anal ilaha illa Allah laa syarikalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh Allahumaj ‘alnii minat tawwabiina waj ‘alnii minal mutathohiriina.”.

Hal ini didasarkan pada riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib karomallahu wajhah berwudhu, kemudian membersihkan kedua telapak tangannya hingga bersih, berkumur tiga kali, menghirup air dengan hidungnya tiga kali, membasuh wajahnya tiga kali, dan kedua tanganya tiga kali, mengusap kepalanya sekali, membasuh kedua kakinya hingga kedua mata kaki,kemudian berkata, “aku ingin perlihatkan kepada kalian bagaimana cara bersuci Rasulullah Saw. (diriwayatkan At-Tirmidzi, dan ia men-shahih-kannya)

Hal-hal yang membatalkan wudhu :

  1. Sesuatu yang keluar dari dua lubang manusia (kemaluan dan dubur), misalnya air kencing, air madzi (lender yang keluar dari kemaluan karena syahwat), wadyu (cairan putih yang keluar selepas air kencing), tahi, kentut yang berbunyi dan tidak berbunyi. Itu semua dikategorikan hadats, sabda Rasulullah Saw, “Allah tidak menrima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats hingga ia berwudhu lagi. (HR. Bukhori)
  2. Tidur berat jika melakukannya dengan berbaring, karena Rasulullah Saw bersabda, “mata adalah atali dubur maka barangsiapa tidur, ia harus wudhu lagi.” (HR. Abu Daud)
  3. Hilangnya akal dan perasaan, misalnya pingsan, mabuk, dan gila. Sebab ketika seseorang hilang akalnya maka ia tidak mengetahui apakah wudhunya batal dengan kentut misalnya atau tidak?
  4. Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan bagian dalam, atau jari-jari, karena Rasulullah Saw bersabda, “barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, ia jangan sholat hingga ia berwudhu lagi.” (HR. Tirmidzi dan ia men-shahih-kannya).
  5. Murtad, misalnya dengan mengatakan perkataan yang menunjukkan kekafiran, karenanya wudhunya batal dan semua amal perbuatannya menjadi hangus, karena Allah Ta’ala berfirman “jika kamu mempersekutukan,(Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
  6. Menyentuh wanita dengan syahwat, sebab menginginkan syahwat itu sama dengan syahwat itu sudah ada dan itu membatalkan wudhu. Dalilnya ialah perintah untuk berwudhu setelah menyentuh kemaluannya, karena menyentuh kemaluan itu membangkitkan syahwat, dank arena diriwayatkan di Al-Muwatho’ bahwa Abdullah bin Umar r.a berkata; “ ciuman seorang suami terhadap istrinya dan meraba istri dengan tangan termasuk dalam arti kata menyentuh. Oleh karena itu, barngsiapa mencium istrinya dan merabanya, ia harus berwudhu lagi.” Dan hal ini dalam mazhab imam Malik, imam Abu hanifah. Berbeda halnya dengan mazhab imam Syafi”I tidak ada tambahan dengan syahwat, sehingga dalam mazhab imam Syafi’I menyentuh wanita saja itu sudah membatalkan wudhu walaupun tidak dengan syahwat.

Orang-orang yang disunnahkan berwudhu

  1.  Salis yaitu orang yang kencing dan kentutnya tidak bisa berhenti di sebagian besar waktunya, ia disunnahkan berwudhu untuk setiap sholat, karena ia di analogikan dengan wanita mustahadhah.
  2. Wanita mustahadhah, yaitu wanita yang mengeluarkan darah tidak di hari-hari rutinnya. Ia disunnahkan berwudhu untuk setiap sholat, karena sabda Rasulullah Saw kepada Fathimah binti Abu Hubaisy, “kemudian berwudhulah engkau untuk setip sholat.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasai)
  3. Orang yang habis memandikan mayat, atau menggotongnya, karena Rasulullah Saw bersabda, “barangsiapa memandikan mayit, hendaklah ia mandi dan barangsiapa menggotongnya hendaklah ia berwudhu.(HR. Ahmad, An-Nasai dan tirmidzi, hadits Ini dhaif). Karena hadits ini hadits dhaif, maka ulama mensunnahkan berwudhu bagi orang yang habis memandikan mayat sebagai bentuk kehati-hatian.

Referensi :

  1. Kitab Minhajul Muslim
  2. Kitab Bulughul Marom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>