Kisah Sahabat Madani (1)

Oleh: Fara Silfia

Bingung apa yang harus ku tulis di lembar putih ini.

Mmmghh mungkin sesuatu yang berkesan saja hingga masih ku ingat sampai saat ini.

Tegal dan UMC.

Ya,

TEGAL  dan UMC.

Mungkin ada yang asing dari 2 kata di atas, UMC??

Itu, Undip’s Mathematics Competitions. Hehehe,,

Kan ku awali ceritaku dari mmmghhh Kota Tegal. Mmghhh bukan, Kabupaten Tegal. Mmmgghh tidak. Lebih tepatnya Tanah Tegal.

Ya, Tanah Tegal. Tanah yang belum pernah ku injak sebelumnya. Mungkin hanya pernah ku lewati saja saat ku berkunjung ke rumah kawan ku di Subang. Waktu itu Ku hanya bisa duduk di dalam bis malam namun tak sempat mampir di Tegal,  jadi aku belum sempat pula menginjakan kaki di kota itu.

Alasan ku ke Tanah Tegal, kenapa?

Asal ku dari Jepara. Kalau liburan  kenapa aku tidak pulang saja ke rumah yang jarak dari Semarang-Jepara lebih dekat dibandingkan Semarang-Tegal. Jawabannya, waktu itu ku diajak oleh kawan ku untuk berkunjung ke rumahnya. Pikir ku dulu kawan-kawan sudah pernah main ke rumah ku, lantas tidak ada salahnya jika sekarang ku berkunjung ke rumah kawan ku yang lain.

Waktu itu sudah ku pastikan akan main, aghh tidak, akan DOLAN ke Tegal pada hari Sabtu tepatnya tanggal 19 Januari 2013. Ku sudah yakin akan berangkat hari itu tapi, memang ujian selalu ada. Beberapa hari sebelumnya ku sudah mengirimkan jarkom ke kawan-kawanku yang mau ikut. Awalnya respon mereka positif, positif mau ikut. Tapi di malam hari H ternyata ada beberapa yang memutuskan untuk tidak jadi ikut. Kecewa jelas iya. Marah? jelas Marah. Salah? Jelas salah. Tapi kala itu ku tahu yang salah adalah aku. Aku yang tak bisa menepati janji ku kepada kawan ku janji bahwa ku akan berkunjung ke rumahnya. Marah pun tak guna. Mungkin ini ujian ku untuk agar bersabar. Janji yang belum sempat ku bayar.

Janji yang selalu teringat sekalipun saat masuk kuliah. Kapan aku membayarnya? Pertanyaan itu slalu melintas dipikiran ku. Tak tenang, maka kuputuskan hari itu juga ku langsung menggajak kawan-kawanku yang benar-benar ingin ikut. Yang tidak memberikan ku jawaban mengambang. Ku dari Matematika jadi ku ingin jawaban yang pasti. Jawaban Iya tau Tidak. Dan ternyata yang merespon hanya 3 orang, sempat sedih tapi ku yakin. “Tidak apa sedikit tapi terlaksana”, yakin ku dalam hati.

Sabtu, 26 Januari 2013.

Pikir ku dolan hanya beriga akan sedikit sepi. Tidak bisa berbagi certa yang banyak. Apa lagi jika saat perjalanan mungkin yang dua orang hanya fokus dengan motor. Huufftt mengeluh pun tak ada arti. Aku yang mengajak seharusnya aku yang bisa membuat suasana menjadi baik. Pagi itu ku hanya bisa menunggu di kos dengan tidak terlalu bersemangat karena ku tahu orang Indonesia pasti selalu terlambat, tapi Subhanallah. Ternyata yang datang jauh dari rencana. Jika di total yang ikut menjadi 8 orang. Dari yang konfirmasi 3 orang, saat itu berubah menjadi 8 orang.

“Ini baru Laskar Tegal”, Batin ku.

Innalla ma’ana, ya sesungguhnya Allah selalu bersama kita. Allah selalu mengerti apa yang ku mau (Innallaha ‘aliimun bidzaati shshuduur : sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu)) dan Allah memberi apa yang aku harapkan. Ya ini adalah rencana-Nya yang harus ku syukuri kala itu.

Pukul 12.30 WIB kami sampai di Pemalang. Kami putuskan tuk berkunjung dulu kerumah teman. Alhamdulillah, saat itu kami dijamu dengan sangat baik, dan saat itu ku pertama kalinya merasakan soto khas Pemalang. Ternyata memang berbeda dengan soto-soto yang lain. Soto Kudus saja berbeda dengan soto Kemiri khas Pati. Padahal mereka tetangga kabupaten. Apalagi Pemalang yang tetangga jauh.. hahahaaha Kenyang menyantap makanan gratis sekalian menjemput teman, perjalanan kami lanjutkan ke Tanah  Tegal.

Sampai juga ku di Tanah Tegal, di rumah orang yang baru bisa ku tepati janjinya hari itu.

Ketika sampai hari telah begitu sore, kami putuskan untuk ke pantai saja karena aku pun suka pantai. Wahhh angin sangat kencang, sayang jika tidak diabadikan untuk itu kami duduk di dermaga pantai sambil ngemil dan foto-foto sampai lupa waktu magrib. Astagfirullah

Baru sadar jika malam itu adalah malam minggu. Kami putuskan untuk jalan ke alun-alun Tegal. Melihat indah lampu-lampu hias berjalan kami pun menyewa sepeda mobil. Keliling alun-alun dengan mengayuh sepeda mobil. Cape pun tak dihiraukan, karena terlalu hanyut dengan kesenangan malam di Kota Tegal. Malam minggu yang paling berkesan. Betapa tidak, diantar kami tidak ada yang sudah pernah menaiki sepeda seperti ini. Tertawa menertawai aksi sendiri. Bisa dibilang mungkin saat itu kami gila karena terhanyut senang.

Keesokan harinya, hari terakhir bulan Januari di Kota Tegal. Katanya Tegal terkenal dengan tempat pariwisata GUCI. Ok kami kesana. Aku fikir jarak untuk kesana hanya seperti dari Tembalang ke Simpang Lima saja yang tidak begitu jauh wah ternyata jauh kawan. Mungkin lebih tepatnya jaraknya itu dari Tembalang ke Bandengan. Tempatnya pun hampir sama seperti Bandengan. Daerah pegunungan dengan udara sejuk.

“Taman Wisata GUCI” begitulah tulisan yang tertulis di Gapura pintu masuk Guci. Gapura yang besar. Apakah itu menandakan jika TW Guci itu besar ya? Tak perlu bertanya ku sudah tau jawabannya saat melihat baleho peta TW Guci yang besar. Peta yang menampilkan seluruh wahananya. Terlihat wahana-wahananya pun ada banyak.  Terlalu banyak wanaha di sana mau tidak mau kami harus milih salah satu karena waktu tidak cukup klo harus mengelilingi semua atau beberapa. Berhubung karena banyak kawan ku yang lum mandi, yowes kita ke pemandian air panas ae lah..byur..byar..byur…

Seru ternyata jalan ke Tegal, bisa main ke pantai, naik sepeda mobil, jalan-jalan di permandian air panas GUCI dan itu ku jadikan koleksi di salah satu memory kenanganku.

Kisah kedua, UMC.

Bingung harus cerita dari mana, mmghh Semi final dan final aja lah yang seru.

Pertama kaliya ku mengkuti kepanitian dalam sebuah event yang besar, event yang mengikutsertaan peserta dari seluruh kabupaten di Jawa Tengah dalam sebuah lomba. Dari sini banyak pelajaran yang bisa ku ambil, yaitu :

  1. Jangan terlalu menyepelekan tugas,
  2. Jangan menunggu untuk dipanggil tapi segera membantu
  3. Bantu teman jika tugas sudah selesai
  4. Bekerjalah dengan senyum

Satu hal lagi, ini kata mbak senior “ Kamu tuh harus bangga bisa jadi Kestari, soalnya kestari bikin kita mengerti banyak tentang printer dan mengetik(surat,sertifikat, dll) karena sekarang aku di KKN jadi di panggil sana-sini karena aku yang mengerti hal itu dan itu membuat kita  terasa dibutuhkan”. Waghh pengalaman yang sangat bagus.

Dari sini ku mengenal seseorang. Ya dia adik seniorku di matematika. Dia sungguh menginspirasiku dengan beribu kata-kata motivasinya untuk ku. Entah kenapa kami bisa langsung dekat dan akrab. Padahal kenal saja baru di acara ini. Ku melihat dia berbeda. Dia mengajarkan ku arti indah senyum (^^) dan INNALAHA MA’ANA. Dan ternyata dia sangat ingin ikut Syiar KESIMA. Jelas aku mendukungnya walaupun saat ini ku sudah tidak andil di Syiar KESIMA tapi senang karena ada yang ingin melanjutkan perjuanganku dan kawan-kawan Syiar sebelumnya. Kalimatnya yang baik menurutku: innalaha ma’ana, jika memang itu untuk kita tak lari kemana. Allah lebih mengetahui yang paling tepat untuk kita. Tersakiti itu biasa dalam proses pendewasaan hidup, ambil hikmahnya dan pertegas sikap di kemudian waktu. Selalu berfikir ke depan, memohon ke atas, dan bersikap ke bawah.

Ya, Allah Engkau telah mengenalkan aku pada seseorang yang membawa ku kepada kebaikan Sungguh Engkau Tuhanku Yang Maha Penyayang”

Ringkas ya pengalaman UMC ku? Hehehe tapi itulah yang berkesan.

Dari sekian pengalaman yang ku dapat dari Tegal dan UMC, sempat ku menjadi begitu sedih namun sangat bersyukur kepada Allah. Rabu, 26 Februari 2013 ku mendengar kabar duka. Aku fikir kalian pun tau itu.

Ku bertanya kepada teman kos ku yang juga satu jurusan dan satu angkatan dengan yang almarhum mengenai kronologi kejadiannya. Ternyata karena ingin jalan dengan teman-temannya (itu yang ku dengar). Semoga Mereka ditempatkan di sisi Terbaik-Nya, aamiin. Ku langsung berucap”Ya Allah, terimakasih ketika aku dan kawan-kawan ku ke Tegal, Kami berangkat dalam keadaan utuh dan baik-baik  pulang pun demikin, Maha Suci Engkau Tuhan Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi serta Yang Mampu menghidupkan serta memanggil Kami”.

Mungkin ini akan menjadi pembelajaran untuk ku untuk lebih berhati-hati apa lagi dengan perjalanan jauh. Dan selalu mengingat-Nya dalam keadaan apa pun karena INNALLAHA MA’ANA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>